ASI dan Energi Cinta yang Meluap-luap

Minggu, 16 April 2017 - April 16, 2017 WIB - 0 Comments

Sudah banyak orang tahu, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Banyak pula yang paham, ASI tak tergantikan oleh susu formula termahal manapun. Banyak yang bertekad untuk menyusui bayinya secara eksklusif, atau bahkan sampai dua tahun penuh seperti anjuran kitab suci. Pun tak perlu pengesahan dari Komnas HAM maupun Komnas Perlindungan Anak untuk memahami bahwa ASI adalah hak bayi, dan kewajiban ibu untuk memberikan. Namun, tak sedikit yang kecewa karena gagal untuk menggenapkan penyususan hingga 6 bulan, lupakan target 2 tahun penuh itu. Banyak di antara wanita, dan suaminya, yang mengeluhkan berbagai kendala, sehingga tujuan mulia penyusuan harus terhenti di tengah jalan. Diiringi isak tangis dan perasaan teriris, banyak pasangan yang terpaksa membuka kaleng, membuatkan susu formula lalu memberikannya pada buah hati mereka. 


Perkenalkan, saya seorang dokter kandungan, ibu 2 orang anak. Di mata beberapa sahabat, saya dipandang ‘sukses’ menyusui. Sebagai ibu bekerja, saya berhasil menyusui Abel, anak pertama saya, sampbuah hati merai 2 tahun penuh, termasuk di dalamnya tetap menyusui Abel saat dia berusia 18 bulan dan saya dinyatakan hamil lagi. Kemudian saya juga menyusui Adam, anak kedua, sampai sekarang ia berusia 11 bulan. Di samping itu, saya menjadi ibu donor ASI bagi 6 bayi lainnya.

Benarkah saya ‘sukses’? Anda yang menilai. Banyak rekan yang ingin tahu apa rahasia sukses saya. Tak terhitung yang datang kepada saya mengeluhkan berbagai halangan dalam proses penyusuan, dan ingin dicarikan solusi. Tak sedikit yang menangis dan ‘mutung’ menghadapi perjuangan dalam menyusui. Ya, meskipun semua orang tahu menyusui adalah hal normal dan natural, hanya mereka yang masuk dan ikut berproseslah yang tahu bahwa menyusui adalah sebuah perjuangan. Perjuangan yang menguras keringat, darah dan airmata. 

Keringat? Ya, karena memposisikan bayi pertama kali untuk bisa menyusu efektif itu tak jarang sampai berkeringat. Menghadapi situasi ‘bingung puting’, keringat menetes tanpa segan-segan. Memompa ASI saat ibu bekerja itu memerlukan usaha yang tak enteng. Menyusui itu berkorban keringat. Darah? Tak percaya bahwa menyusui itu meneteskan darah? Tanyakan pada mereka yang merasakan putingnya lecet. Nyerinya tak terkira. Wahai para ayah, pernahkhh Anda merasakan lecet di lutut karena jatuh menggores aspal? Hanya lecet saja, tidak sampai luka. Perih kan? Nah, bayangkan lecet itu terjadi di puting payudara ibu menyusui dengan saraf sensoris yang 100 kali lipat dari sensoris lutut, belum tentu Anda sanggup menanggung. Lalu jika lecet itu tak berkesudahan, disebabkan posisi dan pelekatan mulut bayi ke payudara ibu yang tak kunjung diperbaiki, maka lecet itu akan mengerung, membentuk ulkus terbuka dengan darah yang tampak nyata. Menyusui itu membutuhkan pengorbanan darah nyata yang mengalir. Ngeri? Tak hanya ngeri, juga nyeri. Karena itulah menyusui juga menguras airmata.Meski telah menguras keringat dan berdarah-darah, ibu menyusui juga harus menyaksikan bayinya masih terus rewel meski telah menyusu terus-menerus. Keadaan yang membuat ibu mertua dan suami atau bahkan tetangga meragukan ‘keabsahan’ ASI untuk bayi. Tudingan ‘ASI-mu tak cukup’ atau ‘ASI-mu tak berkualitas’ yang kerap datang, disertai jerit tangis buah hati, tak urung menggoyahkan pertahanan ibu yang telah bertekad bulat sekalipun untuk menyusui. Bimbang, itu yang terasa. Airmata, itu yang mengalir. 

Semua yang saya sebut di atas, pernah saya jalani. Meski saat hamil saya sudah mencari tahu seluk-beluk ASI dan laktasi, sayapun pernah di titik terendah sebagai ibu baru dalam kubangan keringat, darah dan air mata. Ironisnya, mental saya sampai jatuh oleh kata-kata orang yang harusnya tidak saya hiraukan. Dia, asisten yang saya bayar untuk membantu mengasuh anak saya kelak saya bekerja. Seorang asisten yang hanya lulusan SD. Dia berkata, “ Adek Abel nangis terus, Bu. ASI Ibu kurang. Majikan-majikan saya sebelum ini pakai susu yang mahal-mahal, anaknya sehat-sehat semua lho, Bu.” Dengan kondisi sebagai ibu baru yang kurang tidur, menderita puting lecet dan mendengar anaknya menangis tak terputus, tak diragukan lagi, airmata sayapun berderai-derai. 

Tapi lihatlah saya kini, bekerja sebagi dokter kandungan. Jam kerja relatif lebih panjang daripada pekerja kantoran, disertai panggilan-panggilan mendadak karena pasien melahirkan. Jam memompa ASI yang tak jarang baru 6 jam kemudian terulang, tak tunduk pada ketentuan 2 – 3 jam sekali ASI harus dikeluarkan, karena memenuhi jadwal operasi dan praktik di polikliniik kebidanan dan kandungan. Belum lagi beban stres pekerjaan yang tak jarang membuat ASI hanya malu-malu menetes saat diperah. Tapi Abel berhasil tak tersentuh susu formula (selain yang diam-diam diminumkan asisten saya itu, dari kaleng susu yang dibawakan rumah bersalin sebagai ‘sangu’) sampai 2 tahun. Adam juga ‘suci’ karena hanya minum ASI, selain MPASI rumahan yang saya buat. 

Apa rahasia ‘sukses’ saya itu? Cinta. Hanya itu. 

Okelah, saya akan membagi beberapa pemikiran yang melandasi tindakan saya untuk menyusui. Yang pertama, adalah pemahaman bahwa ASI yang terbaik. Dalam pengetahuan saya sebagai dokter, ASI tak tergantikan oleh apapun. Sebagai dokter kandungan yang saat itu sedang cuti melahirkan, saya tahu bagaimana kesibukan pekerjaan saya ‘mengancam’ kelangsungan proses menyusui saya. Sebagai seorang adik, saya bergidik menyaksikan kakak perempuan saya yang bekerja, jungkir balik memompa ASI bagi anaknya, yang kebetulan ASI-nya boleh dibilang ‘kejar tayang’. Padahal kakak saya adalah pekerja kantoran, yang ritme hidupnya teratur, jam kerjanya ‘9 to 5’, 5 hari kerja dalam seminggu. Sedangkan pekerjaan saya? Tapi, sebagai seorang ibu yang melihat bayi yang baru dilahirkannya, saya merasakan jatuh cinta yang sangat dalam. 

Tak lulus saya sebagai peserta didik dokter spesialis kebidanan dan kandungan, bila otak saya tidak bisa diputar untuk menguasai keadaan. Dengan dukungan suami yang penuh cinta, keterpurukan dalam keringat, darah dan airmata yang berderai-derai saya hentikan dengan menghubungi konselor laktasi. Saya dibantu untuk memperbaiki pelekatan mulut Abel ke payudara saya. Beres, puting menyembuh, darah tak lagi mengucur, dan Abelpun menggendut dalam waktu sebulan bertambah 1800 gram dari berat lahir. Keyakinanpun memuncak, ASI saya bagus dan cukup. Sayapun menyusun strategi untuk mendepo ASI sebanyak-banyak sebelum mulai bekerja lagi. Tepat di pagi hari sebelum masuk kerja, saya berhasil mengumpulkan 120 botol ASI dalam kurun 5 minggu pasca kelahiran. Sayapun melenggang dengan tenang untuk kembali ke ‘pelukan’ pasien-pasien saya. Akan halnya asisten yang telah menjatuhkan mental saya? Akhirnya dia terbukti ‘telah lancung ke ujian’. Selain diam-diam meminumkan susu formula ke Abel, diapun terbukti mencuri, dan gemar bergunjing ke tetangga. Nah, Allah telah membukakan jalan bagi saya. Asisten itu saya berhentikan. Maaf, saya tidak butuh energi negatif macam itu.

Muluskah proses menyusui setelah itu? Telah saya katakan, menyusui itu perjuangan. Stres pekerjaan, jam kerja yang menyambung jam jaga dilanjutkan jam kerja lagi, sehingga harus meninggalkan rumah 36 jam nonstop, 2 kali seminggu, tidak saya sombongkan sebagai hal yang mudah. Ciutnya nyali saat melihat ASI segan menetes saat dipompa, kerap menghampiri. Beratnya mata saat harus tetap berjaga untuk tetap menyusui atau memompa ASI di tengah malam sungguh menggoda untuk menyudahi semuanya dan memilih tidur saja. 

Tapi kemudian saya tanya diri sendiri. Untuk apa saya masih di rumah sakit, pukul 1 dini hari, dan dengan baju yang berlumuran darah orang lain? Untuk pasien. Bayi siapa yang saya lahirkan pukul 4 shubuh? Bayi orang lain. Lalu, pantaskah saya mengeluh malas memompa ASI demi bayi saya sendiri di rumah? If you’ve gone that far for someone else’s baby, how far would you go for your own baby? Pertanyaan itu membentuk repetisi di benak saya. Lalu saya pandangi Abel dalam tidurnya. Wajah yang damai itu. Wajah yang lucu itu. Wajah yang tak berdaya itu. Menimbulkan keinginan untuk melindunginya, memberinya yang terbaik, mengorbankan apapun deminya, termasuk jiwa raga saya. Belum lagi perasaan yang timbul saat menyusuinya. Perasaan dicintai secara absolut oleh seorang makhluk hidup di dunia ini. Perasaan yang membuat cinta yang telah ada ini semakin meluap-luap. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya tersadar bahwa di dunia ini ada yang lebih daripada menjalani hidup sebagai dokter dan sebagai istri. 

Adalah menjadi Ibu, membuat hidup saya sangat berarti karena dibutuhkan mutlak oleh manusia mini yang ternyata hidup dan punya masa depan. Melindunginya menimbulkan cinta. Mencintainya menimbulkan rela. Mencintainya membutuhkan media pengungkapan. Media itu adalah menyusui. Jika orang menyebutkan bahwa ASI adalah hak bayi, maka saya memandang menyusui adalah hak ibu. Ibu berhak untuk mengungkapkan cintanya yang meluap-luap. Ibu berhak merasakan bahwa dari organ terintimnya, yaitu payudara, bisa memuaskan anaknya, darah dagingnya. Ibu juga berhak merasakan adanya koneksi yang menghubungkan ia dengan bayinya meski tanpa ada kata terucap. Ibu berhak untuk mendapatkan pendengar absolut, yang setia mendengarkan dendangnya walaupun sumbang tak tentu nada. Ibu berhak untuk tetap dicium, apapun aroma yang menguar dari tubuhnya. Ibu berhak atas perasaan nyaman yang tak terlukiskan saat menyusui bayinya. Ibu juga berhak merasa yakin, bahwa saat ia bekerja, sang buah hati di rumah tetap merasakan ‘sari’ sang ibu, melalui ASI perah. Sayalah ibu itu. Saya berhak atas semua itu. Menyusui adalah hak saya. 

Maka, timbullah energi untuk menguasai keadaan. Energi untuk menerobos segala halangan yang menghadang. Energi untuk membangunkan saya di malam hari. Energi untuk mengenyahkan kemalasan. Demi cinta saya untuk Abel, juga Adam kini. Juga cinta untuk suami, yang darinya saya bisa punya dua anak mengagumkan. Jadi, apa rahasia saya untuk sukses menyusui? Tak ada. Saya hanya punya cinta yang meluap-luap. Itu saja.

Sumber: http://www.kompasiana.com/nikenzaf/asi-dan-energi-cinta-yang-meluap-luap_551af488813311247f9de2e3

Inspirasi Lainnya:

Tidak ada komentar: