ASI & IMUNISASI

Minggu, 16 April 2017 - April 16, 2017 WIB - 0 Comments

Apakah ASI bisa menggantikan posisi vaksin yang berguna untuk imunisasi? Jawabannya adalah TIDAK. Karena ASI dan Imunisasi tidak saling menggantikan akan tetapi berjalan beriringan. Memberikan ASI eksklusif enam bulan, dilanjutkan kemudian sampai usia dua tahun dan memberikan Imunisasi sejak lahir sampai usia tertentu berdasarkan jadwal yang sudah ditetapkan. Belakangan ini banyak bermunculan para antivaksin yang secara terang terangan menolak pemberian imunisasi. Mereka giat melancarkan kampanye melalui media sosial dan juga buku. Berbagai isu negatif digulirkan dalam menentang imunisasi.

Salah satunya mereka mengeluarkan pernyataan bahwa “Imun is ASI” yang berarti bahwa ASI saja sudah cukup tidak diperlukan lagi pemberian imunisasi. Kampanye mereka yaitu berupa : Beri ASI, stop Imunisasi. Yang sangat disayangkan adalah cakupan imunisasi semakin menurun karena banyak para orang tua yang terpengaruh dengan kampanye para antivaksin sehingga memutuskan tidak memberikan imunisasi kepada anak anaknya. Akibatnya berbagai penyakit yang sudah mulai jarang terjadi kembali muncul dan menjadi wabah serta memakan korban. Seperti mewabahnya kasus campak dan juga muncul banyak kasus difteri di beberapa daerah termasuk di Aceh. Cakupan imunisasi campak di Aceh untuk tahun 2015 berdasarkan Profil Kesehatan RI yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan tahun 2016 adalah nomor dua paling rendah setelah Provinsi Papua Barat dan cakupan imunisasi secara umum Aceh menduduki nomor keempat terendah di seluruh Indonesia setelah Provinsi Kalimantan Selatan, Papua Barat dan Papua.

Imunisasi adalah program kesehatan dunia yang dimotori oleh WHO dan dilaksanakan oleh semua negara di seluruh dunia sebagai program nasional termasuk Indonesia. Pemberian Imunisasi sudah terbukti puluhan tahun menghilangkan atau mengurangi kejadian berbagai penyakit infeksi. Imunisasi adalah suatu proses yang membuat seseorang menjadi imun (kebal) terhadap penyakit infeksi melalui pemberian vaksin. Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman berupa bakteri, virus, jamur, parasit yang berasal dari luar tubuh. Sistem imun kita akan mengenal kuman yang masuk sebagai musuh yang harus dihancurkan dan imunitas terhadap kuman tersebut ditandai dengan terbentuknya zat anti bodi terhadap kuman tersebut dan bersifat spesifik terhadap kuman tersebut. Jadi prinsip pemberian imunisasi itu adalah memberikan antigen lewat vaksin ke dalam tubuh sehingga tubuh meresponnya dengan membentuk antibodi.

Imunisasi terdiri dari dua macam yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah perlindungan yang dihasilkan sendiri oleh sistem imun tubuh. Imunisasi aktif ini diperoleh ketika tubuh mendapatkan paparan dari kuman sehingga sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi untuk melawan penyakit tersebut. Paparan tersebut dapat terjadi melalui infeksi penyakit sebenarnya atau melalui pemberian imunisasi. Imunitas aktif ini bersifat menentap dan memberikan kekebalan jangka panjang. Vaksin yang diberikan bertujuan untuk merangsang imunitas aktif. Jadi pemberian vaksin termasuk dalam imunisasi aktif. Sedangkan imunisasi pasif diperoleh ketika seseorang diberi antibodi yang berasal dari luar tubuhnya, bersifat dapat memberikan perlindungan efektif tetapi tidak bertahan lama. Contohnya adalah antibodi yang diberikan ibu hamil kepada janinnya yaitu Imunoglobulin G (IgG)  yang ditransfer melalui plasenta dan hanya akan bertahan beberapa bulan setelah bayi lahir. Begitu bayi lahir, bayi langsung berhadapan dengan milyaran kuman yang segera menghuni kulit, hidung, tenggorokan dan saluran cernanya. Sebagai contoh adalah antibodi dari ibu terhadap penyakit campak hanya bisa memberi perlindungan sampai menjelang usia 9 bulan sehingga pada usia 9 bulan bayi diberikan imunisasi campak.

ASI merupakan imunisasi pasif. ASI ternyata bermanfaat dalam meningkatkan respon kekebalan dari vaksin. Beberapa penelitian menyebutkan ternyata bayi bayi yang menerima ASI dan imunisasi Tetanus, Hib, BCG memiliki kadar antibodi yang lebih tinggi daripada bayi bayi mendapatkan imunisasi tersebut namun tidak mendapatkan ASI. Penelitian juga membuktikan bahwa bayi yang mendapat ASI bila diberikan imunisasi maka mereka akan memproduksi kadar antibodi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan susu formula. Selain itu menyusui juga memberikan rasa nyaman dan mengurangi rasa sakit setelah anak diberikan suntikan vaksin.

Memberikan ASI kepada bayi mempunyai banyak sekali manfaatnya. ASI mengandung banyak zat gizi yaitu karbohidrat, protein, lemak dan DHA/ARA, vitamin, mineral, enzim, air, dan faktor pertumbuhan. ASI lebih mudah dicerna dan diserap, memberikan kedekatan antara ibu dan bayi (bonding), ASI juga melindungi bayi dari berbagai infeksi dan penyakit. Pada hari hari pertama setelah melahirkan, ASI mengandung zat kolostrum yang mengandung banyak sekali zat antibodi yang berguna melindungi bayi dari infeksi dan meningkatkan kekebalan tubuh. Kolostrum adalah cairan berwarna kuning keemasan/jingga yang mengandung nutrisi dengan konsentrasi tinggi. Kolostrum juga mengandung jutaan leukosit setiap tetesnya. Leukosit adalah sel darah putih yang berguna untuk menghancurkan virus dan bakteri jahat dan memberikan respon terhadap penyakit. Kolostrum mengandung sejumlah antibodi yang disebut Imunoglobulin (kelompok protein untuk kekebalan tubuh terhadap penyakit). Ada tiga macam Imunoglobulin dalam kolostrum yaitu IgA (Imunglobulin A), IgG (Imunoglobulin G) dan IgM (Imunoglobulin M). Di antara ketiga Imunoglobulin ini, IgA yang paling tinggi konsentrasinya  (kadarnya mencapai 5000 mg/dl) yang bertugas melindungi daerah membran tenggorokan, paru paru, sistem saluran cerna bayi dari serangan kuman. Bila seorang ibu yang sedang menyusui kontak dengan seorang penderita penyakit infeksi maka si ibu akan membentuk antibodi untuk melawan kuman dan antibodi ini akan ditransfer melalui ASI kepada bayinya.

ASI mengandung banyak faktor sebagai anti infeksi yaitu K- imunoglobulin, Secretory imunoglobulin A (SIgA), K-oligosakarida. Perlindungan yang diberikan oleh berbagai faktor ini sangat unik yaitu melindungi tanpa memberikan efek peradangan (misalnya demam tinggi) yang dapat berbahaya bagi bayi dan antibodi SIgA yang terbentuk di tubuh ibu yang secara spesifik melindungi bayi sesuai keadaan bayi dan lingkungan saat itu.  ASI juga mengandung protein yang dapat mengikat vitamin B12 sehingga dapat mengontrol pertumbuhan mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Selain itu ASI mengandung aktioksidan berupa tokoferol dan karotin yang merupakan faktor anti peradangan. Glikoprotein dan glikolipid serta oligosakarida dalam ASI berfungsi menyerupai bakteri pada permukaan saluran cerna bayi sehingga dapat berguna untuk menghambat perlekatan bakteri jahat pada mukosa saluran cerna tersebut. Komponen lain ASI yang mempunyai efek perlindungan antara lain adalah sitokin, musin, laktoferin.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ASI terbukti melindungi dari berbagai penyakit seperti otitis media (infeksi telinga tengah), infeksi saluran kemih, diare dan penyakit pada saluran nafas (batuk pilek) juga pneumonia. Akan tetapi kekebalan ASI itu hanya bersifat sementara, karena ASI tidak bisa merangsang tubuh membentuk antibodinya sendiri. Perlindungan ASI juga tidak berlaku untuk semua penyakit, terutama terhadap berbagai penyakit berat seperti Hepatitis B, meningitis, difteri, tuberkulosis, polio, tetanus, rubella, batuk rejan, cacar air dan campak. Imunisasi yang diberikanpun bersifat spesifik untuk penyakit tertentu yang tidak cukup atau tidak bisa dilakukan hanya oleh antibodi dari ibu dan ASI saja.

Jadi ASI saja tidak cukup untuk melindungi bayi dan anak anak kita dari berbagai penyakit. Memberikan ASI dan imunisasi kepada bayi dan anak anak kita merupakan salah satu upaya dalam melindungi buah hati dan generasi penerus kita. ASI bukanlah pengganti Imunisasi akan tetapi ASI dan Imunisasi sebagai mitra kerja yang bertugas melindungi bayi dan anak anak kita. Jadi mari kita selalu slogankan: Beri ASI, Imunisasi tetap lanjut.  ASI Yes, Imunisasi juga Yes!

*Dr. Aslinar, SpA, M. Biomed
Ketua Aceh Peduli ASI
Pengurus IDAI Aceh dan IDI Aceh Besar

Inspirasi Lainnya:

Tidak ada komentar: